Jumat, 14 Juni 2013

Menanti gaji...

Dari ketinggian tebing kegeraman, gemeretak garaham teradu lantang dengungkan ancaman...

Kelembutan suara pun telah pecah menjadi serakan sumpah, saat umbaran janji tak kunjung sampai di kerontangnya pundi-pundi rejeki...

Ya, mereka telah meruncingkan kemarahan, yang mungkin akan segera teracung tajam kepada siapa saja yang berani tawarkan
elusan peredam...

Hm...

Karena memang harus di akui, bahwa aroma ketidak-wajaran telah hinggap di atas geladak-
geladak hati mereka yang sebentar lagi akan mati ...

_Mereka yang menanti umbaran janji untuk di gaji, yang ternyata hanya jadi pengobar api emosi_

Jakarta, 140613

Jumat, 17 Mei 2013

Tentang kita yang masih setia bergelayut pada ranting keegoisan...

Terkadang, seribu tunas kegusaran akan terus tumbuh hingga menjadi belukar benci yang menjangkiti hati, tatkala benih penafsiran tak lagi berdasar pada gundukan logika murni yang kita miliki...

Bayangan hitam dari setiap jengkal permasalahan pun akan tampak semakin melegam, seakan ingin menenggelamkan semua pemahaman yang telah kita yakini sebagai sebuah penyelesaian...

Lalu tanpa kita sadari, lilitan hasut akan berubah menjadi rantai tuduh yang siap mencekik siapa saja dengan argumentasi pembenaran yang tak sejalan dan sefaham...

Ya, seperti itulah kita yang masih setia bergelayut pada ranting keegoisan dan selalu ingin menang sendiri...

Tak akan pernah ikhlas untuk mengakui suara kebenaran dari letusan pendapat yang tercetus dari mulut sang lawan...

Tak terkecuali aku, kau, juga mereka...

Jakarta, 110513

Rabu, 15 Mei 2013

Ceceran sumpah, peregang nyawa...

Kulihat jutaan telunjuk yang teracung tajam menujam ke arahku...
Runcing dengan kuku cakar  bergerigi yang seolah siap menguliti dan memangsaku...

Juga gemaung suara ocehan cerca yang kian menggema di lelorong cuping-cuping telinga, laksana getaran suara sangkakala yang akan segera meniupkan ledakan kiamat pada lembaran nyawa yang aku punya...

Ceceran sumpah pun telah terserapah tak terbendung hingga terserak semaunya, tanpa peduli akan elakan bantah yang aku koarkan sebagai sanggahan nyata...

Ah...lagi-lagi nyawaku harus meregang karena ulahnya...

Jakarta,140513

Selasa, 14 Mei 2013

Matahari yang tak kunjung rebah...

Di dinding langit, tampak ayunan langkah sang detik yang begitu gontai mengitari wajah matahari...

Ia begitu lamban, seakan tungkai-tungkai kaki sang menit adalah tungkai sang juara pelari yang mustahil untuk di langkahi...

Juga deretan angka-angka yang bergelantungan di pelipis waktu, kini semakin mengusam karena tak terjamah oleh gilasan kaki sang detik maupun lindasan tungkai sang menit...

Putaran roda waktu terasa begitu panjang dan lama, seolah laju kayuhan semangat tak lagi mampu mengitari lingkaran masa yang terus menggelinding dan kuyakini pasti akan semakin menua...

Hm...mungkin itulah sebabnya mengapa wajah matahari yang sedari tadi tersenyum dari arah timur cerah, tak kunjung rebah lalu merekahkan senja di ujung barat sana...

Tapi, bukankah hari ini harus di akhiri dengan cengkeraman malam yang akan datang dengan jubah hitamnya,  sehingga pagi akan kembali menjadi penguasa sementara di keesokan harinya...?

Ah...entahlah...

Jakarta, 150513

Rabu, 24 April 2013

Dua belas - empat

Guguran wabah hening perlahan turun merayapi anak tangga langit, menjangkiti katup mata, membuai hati untuk segera meraih selimut mimpi...

Desiran angin menyela, tawarkan elusan lembut sebelum gelaran mimpi terhampar di pelataran bumi...

Lirikan bulan yang sedari tadi mengintip dari mata sabitnya, seakan berbisik tentang arakan
awan yang masih enggan melangkahi temaram...

Dan aku masih di sini, sendiri dalam perenungan yang sebentar lagi ku yakin akan menguap oleh siraman cahaya pagi...

Dua belas - empat

Tg.priuk,230413

Selasa, 23 April 2013

Ceramah gumpalan udara...

Tanpa henti, lengan angin terus saja menampar rasa kantukku, memaksa kemalasanku untuk tunduk pada kewajiban yang kaku...

Dan bersama dengan ribuan lengan-lengan angin yang lain, ia terus mengibas tanpa titik jeda dan melaju tanpa mata arah, seraya mengayunkan tebasan sumpah tentang kekuasaan yang di milikinya...

Katanya...
Dialah wujud dari gumpalan udara hingga nafasku masih mampu menghitung usia...

Katanya...
Dialah wujud dari sekumpulan udara, hingga kibaran layar mampu terkembang membelah
samudera...

Katanya...
Dialah wujud dari sekawanan udara, hingga riak air terjungkal menjadi gulungan ombak perkasa...

Katanya...
Dialah wujud dari serangkaian udara, yang menggiring hawa, membentuk lingkaran cuaca...

Katanya...
Ya, aku percaya...
Bahwa engkau adalah penguasanya...

Maka lewat sembah, izinkanlah aku mengulurkan pinta...

Redakanlah sedikit kekuatanmu...
Lemahkanlah sedikit kibasanmu...

Karena aku mulai menyerah...
Dan sepertinya mau muntah...

Tg.Priuk-120413

Senin, 25 Maret 2013

Tentang bisikanmu...

Kudengar ia berbisik dari arah sebelah kiri telingaku, mendengungkan suara yang sampai saat ini belum mampu aku cerna dengan syaraf-syaraf otakku...

Ia bercerita tentang segala isi dunia, yang katanya sebentar lagi akan tergenggam erat dengan cengkeraman jari-jarinya...

Cerita pun mengalir deras, dan terus bergejolak di atas hamparan kisah yang tak ada ujung pangkalnya...

Kini, dengung bisikannya telah berubah jadi lengking teriakan, dan bahkan semburan buih-buih busa air liur telah menjadi gumpalan kental yang menggenang di mana-mana...

Tampaknya Ia mulai murka, dan mengutuk semua cara yang telah di halalkannya...

Aku hanya mematung tanpa kata, belum mampu percaya dengan segala ocehannya...

Dan ku biarkan ia mengejang, kaku dalam genangan busa air liurnya...

Selamat jalan kawan, bisikkanlah aku semangat, tanpa harus membuatku lupa akan makna dari halalnya segala cara...

Buaran-Jakarta, 260313