Dari celah retakan di daun pintu jendela kayu kamarku, seutas cahaya remang tampak menggemulai layu dalam langkah menyusuri ruang tapa malamku…
Sesekali ia mengedipkan kibasan selendang hitam, tatkala geliat laju bayang yang entah datang dari arah penjuru mana, tiba-tiba
menghampiri dengan seribu lipatan kain perca kumal dan menyumbati celah retakan di daun pintu jendela kayu itu…
Namun ketika gertakan waktu ternyata mampu mengusir dan mencungkil semua lilitan sumbat yang menghalangi lesatan cahaya itu, aku malah terjungkal dari kujuran ranjang kayu usang lapuk dikamarku…
Sebuah kilatan pedang berkepala cahaya kini telah bersarang tepat di jantungku dan menebas tajam semua reruas tulang kerangkaku…
Aku tersungkur..
terjerembab dengan simbahan darah yang tanpa warna dan aroma…
Dan sebelum mataku mengatupkan nyawa di penghujung nafas..
Sempat ingatanku mencatat namamu yang begitu fasih merapalkan mantra-mantra…
Engkaukah yang membaca mantra itu untukku…?
ciwandan,100812
Tidak ada komentar:
Posting Komentar